07.05.08

Apa itu Kukang? (Episode 1)

Ditulis dalam Kukang Lho... pada 1:14 am oleh Dian Ayu

Nycticebus coucang

Nycticebus coucang

Kukang adalah primata prosimian* dengan berat 500 – 1.500 gram yang memiliki rambut yang tumbuh sangat lebat dan halus. Warna rambut kelabu keputihan, kecoklatan hingga kehitam-hitaman. Bagian tengah tubuh mulai dari dahi, punggung sampai pangkal ekor terdapat garis coklat yang melintang. Garis coklat juga terdapat melingkar dan menjadi warna dasar telinga dan mata. Pada bagian mata, garis coklat ini dapat berbentuk oval atau bulat menyerupai kacamata. Panjang tubuh termasuk kepala berkisar antara 190 – 275 mm untuk betina dewasa dan panjang tubuh seekor jantan sekitar 300 – 380 mm. Memiliki ekor yang pendek hampir tidak terlihat sepanjang kurang lebih 10 – 25 mm. Panjang kaki belakang berkisar antara 48 – 63 mm dengan tinggi telinga 18,9 mm. Berat tubuh betina sekitar 230 – 610 gram. Sedangkan jantan antara 375 – 900 gram (Supriatna dan Wahyono, 2000).

Seperti prosimian nocturnal* lainnya (kecuali ada 3 species dari Tarsier), retina kukang berisi sebuah lapisan tapetum lucidum* yang sempurna untuk mampu melihat pada malam hari dengan menggunakan kembali semua cahaya yang telah masuk. Sinar mata kukang, ketika terkena cahaya berwarna jingga terang. Pantulan dari cahaya yang berasal dari sumber cahaya yang kuat seperti obor dari mata, memungkinkan kukang untuk melihat suatu benda hingga pada kejauhan beberapa ratus meter. Selain dilengkapi dengan ketajaman visual pada malam hari, para loris dilengkapi dengan kelebihan indera penciuman yang sempurna. (Wiens, 2002).

Loris memiliki 2 gigi taring dan 4 gigi seri yang ditunjukkan lebih rendah dari rahang bawah dan hampir mendatar. Semua loris memiliki moncong/mulut yang pendek dan kuping-kuping yang kecil; ekornya pendek atau tidak ada sama sekali. Jari kaki yang besar pada kaki yang paling belakang dan terlepas dari jari kaki lain, menggambarkan kemampuan untuk menggenggam. Seperti pada semua famili Lorisidae, kukang mempunyai kuku yang panjang dan bengkok yang menonjol pada jari kedua. Satwa ini mempunyai kondisi lebih efektif pada ruas-ruas tulang belakang punggung yang memberi kemudahan bagi satwa ini untuk dapat membelit/melingkar di sekitar (atas/bawah cabang). Kukang mengeluarkan kelenjar toksin Pholypeptidae yang berasal dari kelenjar yang berada di lengannya dan pada gigi taringnya. Kukang betina biasanya melumuri bayinya dengan toxin yang dicampur air liurnya, agar bayinya terhindar dari santapan predator kukang (Ballenger, 2001).

Prosimian = jenis pimata yang keempat jarinya (di samping jari jempol) tidak dapat digerakkan secara terpisah.

Nocturnal = jenis satwa yang beraktifitas pada malam hari. Di siang hari, satwa-satwa nocturnal beristirahat. Namun pada saat terdesak, beberapa jenis satwa ini terkadang ditemukan beraktifitas pada pagi, siang ataupun sore hari.

Tapetum lucidum = lapisan pada retina satwa, dimana lapisan ini berfungsi menyimpan cahaya yang masuk ke mata, yang kemudian cahaya simpanan ini dipergunakan untuk mempertajam visual satwa.